Wednesday, April 15, 2020

Syukuri Potensi Ibadahmu

Ada orang yang banyak sedekah tapi shalat malamnya malas.
Ada orang yang kencang tahajjudnya, tapi sedekahnya susah bukan main.
Ada orang yang rajin bukan main untuk taklim, tapi tilawahnya jarang sekali.
Ada yang tilawahnya semangat sekali, tapi susah sekali untuk shaum sunnah.

Dan lain-lain...

Syukuri saja potensi-potensi ibadah itu dan terus kerjakan, sebab:

1. Jarang ada orang yg hebat di semua cabang ibadah. Seringnya hebat pada suatu ibadah, tapi lemah pada ibadah lainnya. Maka, teruslah pertahankan kebaikan yang sudah ada.

2. Karena potensi kita memang terbatas, kecenderungan kita juga berbeda-beda, tidak  bisa diseragamkan.

Makanya pintu surga itu macam-macam, ada pintu shalat bagi yang ahli shalat, ada pintu sedekah bagi yang ahli sedekah, ada pintu ar-Rayyan bagi yang ahli shaum. Allah Maha Tahu...

Ibnu Mas'ud pernah ditanya, "Kenapa jarang shaum sunnah?"
Kata beliau, "saya kalau shaum jadi loyo tilawahnya, padahal tilawah adalah ibadah yang paling aku cintai. Jadi, beliau fokus pada tilawahnya karena memang disitu potensi beliau.

Imam Malik ketika diajak 'uzlah (menyepi dan fokus ibadah mahdhah) dan meninggalkan kesibukan mengajar oleh Abdullah al-'Umari, beliau jawab, "Allah membagi-bagikan amalan shalih kepada setiap orang seperti membagi-bagikan rezeki. Betapa banyak orang yang dimudahkan shalat tapi susah shaum, betapa banyak yang dimudahkan bersedekah tapi shaumnya jarang, bagiku menyebarkan ilmu adalah sebaik-baik amalan shalih, aku ridha atas kemudahan yang Allah berikan ini. Dan aku tidak merasa bahwa apa yang aku lakukan ini dibawah ibadah yg kamu lakukan. Aku berharap setiap kita dalam kebaikan dan ketaatan."

Makanya pintu surga itu macam-macam, ada pintu shalat bagi yang ahli shalat, ada pintu sedekah bagi yang ahli sedekah, ada pintu ar-Rayyan bagi yang ahli shaum. Allah Maha Tahu...

Yang patut disesali itu jika kita tidak tahu potensi ibadah kita atau sudah tahu tapi malas mengerjakannya. Lalu, melalui pintu surga mana kita akan masuk?

Penulis : Satria hadi lubis

Tuesday, April 14, 2020

Tauhidullah menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas



Dalam Islam, Allah Swt merupakan realitas tertinggi dan menjadi acuan setiap aktivitas seorang Muslim. Adapun seorang Muslim dinilai kurang sempurna imannya jika dalam satu aspek dia menjadikan Allah Swt sebagai acuan, tapi dalam aspek lain menepikan Allah Swt. Apapun aktivitas, profesi dan kegiatan manusia seharusnya merupakan penghambaan (ibadah) kepada Allah Swt. Mengapa demikian?

Jika ditinjau konsep atau prinsip yang paling mendasar, sekaligus paling luas atau komprehensif untuk menata dan mengembangkan kehidupan secara keseluruhan, tiada lain adalah konsep tauhid “tauhidullah”. Banyak tafsir, antara lain tafsir Fi Zhilalil Quran, memastikan bahwa konsep inti yang ada pada seluruh ungkapan Al Quran adalah tauhid. Seluruh dimensi dan masalah kehidupan yang diangkat dalam Al Quran berangkat dan bermuara pada konsep tauhidullah. Tauhidullah disini diartikan atau berpandangan, bahwa alam dan kehidupan seluruh gerak dan diamnya merupakan satu kesatuan sistem yang menyebabkan Allah sebagai satu-satunya. Semuanya gerak dan diamnya memiliki makna dan tujuan yang jelas, memiliki fungsi yang proporsional yang pasti menjamin harmonis alam dan sekitarnya. Semuanya hanya ada di satu tangan kehendak yaitu satu-satunya yang esa, tempat bergantung semuanya, tidak tergantung kepada apapun.

Al Quran secara berani mengkorelasikan do’a manusia, dzikir dan istigfarnya dengan perilaku alam. Manusia beristigfar, alam merespon. Kebenaran yang dipastikan oleh manusia hanya kebenaran yang berujung pada fakta empirik, agak sulit diterima dan dibenarkan, tapi tatkala kita memastikan keadilan Allah yang Maha satu satunya, menjadi satu keniscayaan. Tauhidullah merupakan segala-galanya. Haji, qurban, hijrah, semuanya bersendikan dan berintikan tauhidullah. Haji dengan segala perosesnya membina dan menanamkan secara pasti tauhidullah, sesungguhnya kebanggaan, kemuliaan, nikmat, jabatan, hanya milik Allah. Qurban merupakan implementasi nyata dari tauhidullah dengan prinsip penyerahan total kepada bimbingan Allah.

Dalam pandangan Islam, realitas tertinggi adalah Tuhan, dan menjadi asas paling dasar dalam aktivitas berpikir. Dalam menjalani kehidupan beragama ini, seorang Muslim memiliki pandangan-pandangan terhadap konsep kehidupan, manusia, akhlak, ilmu alam dan lain sebagainya. Jika konsep-konsep yang berpusat dengan konsep Allah ini berfungsi menjadi alat utama memandang sesuatu, maka seorang Muslim memandang realitas ini dalam kesatuan konsep yang berpusat kepada tauhid. Maka, apapun keahlian ilmu seorang Muslim; fisikawan, ahli kedokteran, insinyur, ahli ekonomi, teolog, ahli falsafah, faqih, dan lain-lain, jika menggunakan tauhid sebagai  standarnya, maka ilmu yang terpancar dari akal fikirnya menjadi kekhasan tersendiri sebagai seorang ilmuan Muslim yang hakiki.

Mengutip jurnal yang ditulis oleh Tri Arwani mengenai Relasi Tuhan dan manusia menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, relasi Tuhan dan manusia dalam pandangan Al-Attas sangat berhubungan dengan konsep Al-Attas mengenai ketuhanan yang membedakan juga konsep Tuhan sebagai Rabb dan Tuhan sebagai Ilah. Tuhan sebagai Ilah yang didapat dar konsep tauhid uluhiyah, memiliki arti tidak menyekutukan-Nya dan tunduk serta taat kepada-Nya degan cara, metode serta jalan yang telah dtunjukkan dan disetujui oleh-Nya. Sedangkan Tuhan sebagai Rabb didapatkan dari konsep tauhid rububiyah, yang meyakini Allah sebagai Sang Pencipta, Yang Memiliki dan Yang Mengatur. Ketika relasi antara Tuhan dan manusia ditinjau dari konsep tauhid uluhiyah, maka posisi manusia adalah seorang hamba Allah yang tujuan awal dari penciptaan dan eksistensi manusia untuk mengabdi kepada Allah dengan penuh kesadaran dan keinginan karena Allah semata dan sesuai dengan syari’at-Nya. Sedangkan dilihat dari konsep tauhid rububiyah manusia memiliki amanah sosial sebagai khalifah Allah di bumi Sebagai khalifah di bumi yang harus menjadikan Al-Quran dan hadish sebagai pedoman utama.

Menurut Prof. Syed M Naquib al-Attas, orang baik itu orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab terhadap dirinya kepada Tuhan, sekaligus memahami dan menunaikan keadilan terhadap diri, orang lain dan alam. Konsep kebaikan tidak lepas dari keilahian. Adil terhadap diri, manusia dan alam itu berpondasi kepada Tuhan, bukan kepada rasio belaka. Artinya, orang baik itu adalah ber-tauhid sekaligus toleran (Wan Mohd Nor Wan Daud,Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas,terj. hal. 174). Muslim bertauhid harus muslim manusiawi begitu pula sebaliknya. Maka, humanis dalam Islam didasari oleh ketuhanan dan sebaliknya muslim bertwhīd yang baik mestinya menjadi pribadi yang dikatakan ‘humanis’. Berbeda dengan worldview Barat, bahwa menjadi humanis tidak perlu menjadi religius, seorang ateispun dapat menjadi humanis. Dalam konsep Islam, pribadi seperti ini bukan orang baik.

          Bagi Prof. al-Attas, kebebasan sesungguhnya adalah bertindak sesuai dengan yang dituntut oleh hakikat sebenarnya dari dirinya. Yaitu kembali kembali kepada kecenderungan alami, sebagai hamba yang khudu’ (patuh).  Khudu’ ini adalah konsekuensi tauhid. Menurut Imam al-Thahawi, tujuan tawhīd adalah menjalankan keimanan dengan hukum-hukum syari’at (Abdul Ghaniy al-Ganimiy al-Maidaniy al-Hanafi al-Dimasyqi,Syarh al-‘Aqidah al-Tahāwiyah, hal. 47). Maka dari itu, dalam pandangan Islam, kebebasan manusia itu kebebasan diri ruhani, yaitu pengembalian diri kepada hakikat yang sebenarnya yang pernah mengikat janji kepada Allah SWT. Kebebasan adalah bentuk penghambaan yang murni kepada Allah SWT secara sempurna. (Syed Muhammad Naquib al-Attas,Risalah Untuk Kaum Muslimin, hal. 82, dan Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, hal.63-64)

Sumber :
Aam Abdusalam.2017.Konsep Tauhid “Tauhidullah”. http://islamiccenter.upi.edu/konsep-tauhid-tauhidullah/
Khoili Hasib.2019.Konsep Tauhid dan Kajian Pespektif Worldview Islam. http://inpasonline.com/konsep-tauhid-dan-kajian-perspektif-worldview-islam/
Tri Arwani.2018.Relasi Tuhan dan Manusia menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas. http://digilib.uinsby.ac.id/22472/

.



Konsep Ad-Diin menurut Al-Attas


Secara etimologi, din berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti menguasai, tunduk, patuh, hutang, balasan, dan kebiasaan. Din memang menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada Allah dengan menjalankan ajaran-ajaran agama. Din lebih lanjut lagi membawa kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan akan menjadi hutang bagi pemeluknya. Faham kewajiban dan kepatuhan membawa pula pada paham balasan, yaitu yang taat akan mendapat balasan yang baik dari Allah, sedangkan yang ingkar akan mendapat balasan yang buruk.

Din menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas
Menurut al-Attas, pengertian din adalah dayn (hutang), Madinah (kota), dayyān (penguasa, hakim), dan tamaddun (peradaban). Penjelasan makna-makna tersebut membuat gambaran akhir kesatuan makna sesuai dengan yang dimaksudkan, yaitu membawa maksud keyakinan, kepercayaan, perilaku, dan ajaran yang diikuti oleh seorang muslim secara individu maupun secara kolektif sebagai satu umat dan terjelma secara keseluruhan sebagai agama yang dimaksud dengan Islam.

1. Dayn
        Al-Attas menjelaskan berbagai aspek dari kata kerja dāna, yang berarti “berhutang” yaitu sesuatu yang harus dipenuhi atau ditunaikan. Dari kata ini, kemudian jika di-tashrīf melahirkan kata din, agama, yaitu suatu undang-undang atau hukum yang harus ditunaikan oleh manusia, dan mengabaikannya akan berarti “hutang” yang akan tetap dituntut untuk ditunaikan, serta akan mendapatkan hukuman atau balasan, jika tidak ditunaikan. Dari hal tersebut, menurut al-Attas, anugerah terbesar yang diterima oleh tiap orang adalah kewujudannya.  Manusia sesungguhnya berhutang kepada Tuhan atas keber-ada-annya dan semua karunia duniawi untuk mencukupi hidupnya. Al-Attas mendiskusikan berbagai definisi dari kata kerja dāna, yang berarti keadaan berhutang, dan bagaimana ia berkaitan erat dengan arti yang lain, seperti “keadaan berserah kepada sang piutang” (dā’in), yaitu rasa tanggungjawab atau ketaatan kepada piutang, hukuman (daynūnah), dan penghukuman (idânah). Oleh karena itu, untuk mengakui berhutang sepenuhnya kepada Tuhan atas kewujudannya, seseorang haruslah mengakui bahwa sebelum dia ada di dunia ini dia adalah tidak ada, hal ini digambarkan al-Qur’an yang artinya :
Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Seorang manusia tidak dapat menjadikan dirinya sendiri tumbuh, dan berkembang dari segumpal darah menjadi dewasa dan sempurna. Bahkan setelah dewasa, manusia tidak dapat menciptakan indera penglihata, pendengaran atau panca indera lainnya untuk dirinya sendiri. Maka bagi mereka yang sadar, yang telah diberi petunjuk yang benar yakni akal ruhaninya, akan jelas terbukti bahwa bukanlah insan yang mengerakkan dirinya dari satu peringkat ke peringkat lain, akan tetapi justru ada yang lain menggerakkannya
Al-Attas mengatakan bahwa keberhutangan itu pada awalnya bermula dari peristiwa yang terjadi ketika manusia belum diberi jasad dan masih berada dalam bagian kesadaran Tuhan. Pandangan al-Attas mengenai hal ini berangkat dari ayat yang berisi perjanjian antara Tuhan dan manusia sebagaimana yang diungkapkan al Qur’an yang artinya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi".
Maksud dari ayat tersebut bahwa, insan telah membuat perjanjian dengan Tuhannya yang diakuinya sebagai Khalik yang membina dan memeliharanya. Perjanjian ini adalah pengakuan penerimaan tugas serta tanggung jawab insan kepada Tuhannya, dan inilah sifat bawaan insan yang suci sebelum terkena noda hewani.

2. Madinah
Al-Attas menunjukkan akar kata D-Y-N dalam arti baru yang belum pernah dikatakan oleh ilmuwan sebelumnya, yaitu hubungannya dengan konsepsi kata Madinah. Al-Attas berpendapat seluruh pemaknaan yang terdapat di dalam kata dāna hanya dapat dipraktekan di dalam sebuah masyarakat yang tertata dengan kehidupan perdagangannya dan hubungan masyarakatnya di dalam sebuah kota (Madinah). Kata bahasa Arab untuk kota adalah mudun atau madā’in yang merupakan turunan dari kata dāna. Karena tidak akan pernah ada sebuah masyarakat yang berperadaban tanpa seorang hakim, penguasa, gubernur. Kita menemukan bahwa keberadaaan fisik dan kehidupan yang berperadaban yang berkembang dalam sebuah kota merupakan cerminan secara linguistik berasal dari istilah dāna. Dengan demikian, al-Attas menggambarkan pentingnya hubungan antara konsep din dan Madinah, dan melihat secara mendalam hubungan signifikan dan erat antara konsep din dan konsep Madinah yang berasal dari kata din tersebut, dan peranan orang yang beriman secara perorangan dalam hubungannya dengan yang pertama (din) dan secara kolektif dalam hubungannya dengan yang kemudian (Madinah).

3. Dayyan
Menurut al-Attas penyerahan diri yang benar adalah yang dilakukan dengan sadar dan atas kemauannya sendiri. Penyerahan diri juga berarti ketaatan terhadap hukum-hukum-Nya. Allah menegaskan “Dan siapakah yang lebih baik dīn-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus.” (Q.S. An-Nisaa :125). Kata din dalam ayat tersebut tidak lain dan tidak bukan hanya merujuk kepada Islam. Tidak ada keraguan, bahwa ada berbagai bentuk din lainnya. Tetapi menurut al-Attas, yang melakukan penyerahan diri kepada Allah adalah yang benar, dan din semacam itulah yang merupakan satu-satunya din yang diterima Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya.

4. Tamaddun
Tamaddun berasal dari kata maddana yang berarti peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial. Tamaddun akan menjadi kenyataan setelah ada ikhtiar untuk mempertingkatkan taraf adab dan memperhaluskan budi pekerti serta menimbulkan jati diri insan tiap-tiap anggota masyarakat tersebut.
Pada masa ini semakin jelas bagi kita bahwa konsep din, dengan pengertian yang paling mendasar, sesungguhnya mencerminkan suatu bukti nyata adanya suatu kecendrungan yang bersifat alami dari manusia untuk membentuk suatu masyarakat, yang taat hukum dan berusaha mewujudkan suatu pemerintahan yang adil. Konsep din mempunyai hubungan yang erat dengan konsep keadilan. Dalam Islam, agama merangkum kehidupan secara keseluruhan, semua kebajikan dan budi pekerti adalah bersifat keagamaan, ia berhubungan dengan kebebasan jiwa. Kebebasan artinya kemampuan untuk berbuat adil terhadap dirinya dan pada gilirannya ia merujuk pada pelaksanaan kekuasaan, kedaulatan, bimbingan dan pemeliharaannya atas jiwa dan raga hewani. Kemampuan untuk berbuat adil terhadap dirinya sendiri menyinggung secara tidak langsung kepada penegasan yang berterusan dan pemenuhan terhadap perjanjian yang ia lakukan dengan Allah Swt.
Waalahu A’lam Bisshowwab.

Sumber :
JA Filsafat.Din Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas.http://repository.uin- suska.ac.id/3971/4/BAB%20III.pdf
Muhammad Abduh Tuasikal.2012.Hanya Islam yang Diterima. https://rumaysho.com/2826 hanya-islam-yang-diterima.html
Samsul Amin.2017.Makna Ad-Din. https://nuun.id/makna-ad-din\

Tuesday, January 22, 2019

Indahnya Berbagi Semangat Kebaikan (Part 2) - Awal Kontribusi

Berbicara mengenai mentor di fakultas, semenjak semester 2 gua jadi punya role model di perkuliahan. Semangat juang yang tinggi dalam kebaikan, manajemen waktu yang baik, dan adab yang baik merupakan sebagian hal yang dapat gua pelajari dari beliau. Yaa meskipun umur kami hanya terpaut 3-4 tahun, tapi terlihat jauh mengenai kualitas diri yang kami miliki. Yang paling gua inget dari perkataan beliau bahwa kita tuh gaboleh ada waktu kosong, hanya 2 yang kita dapet kalo ada waktu kosong yaitu kesia-siaan dan yang paling parah kemaksiatan. Na'udzubillah...

Setelah gua pikir-pikir mengenai pernyataan tersebut, berdasarkan pengalaman memang betul banget hal itu terkadang bahkan selalu terjadi dimana setiap gua ada waktu kosong, gua jadi bingung mau ngapain yaa paling" main game itupun kalo kelamaan bakal pusing hehe Gua pun berupaya gimana caranya agar gua gak ada waktu kosong minimal gua kumpul sama temen-temen deket, diskusi santai sambil ngopi beneran(gak boongan) hehe setidaknya gua ada aktivitas positif setiap hari. Waktu memang berlalu begitu cepat, tapi kita harus tau bagaimana caranya kita memanfaatkan waktu yang cepat itu dengan aktivitas yang positif.

Di semester 2, gua memutuskan untuk gabung di KAIFA FIA UI 2017 (Keluarga Islam Fakultas Ilmu Administrasi) supaya apa? Yaa untuk menjaga ruhiyah(ibadah, hubungan dengan Allah Swt) dan mendapatkan wadah setidaknya untuk bermanfaat, menyebarkan semangat kebaikan minimal di fakultas sendiri. Gua ikut open reqruitment nya dan daftar menjadi staf MSDM(Manajemen Sumber Daya Manusia) karena memang basic dan minat gua semenjak SMA ada di ranah itu. Singkat kata, Alhamdulillah gua diterima.

Semenjak gua diterima, gua disambut hangat oleh Kabiro & Wakabiro nya. Sebut saja namanya Kak Iffa dan Kak Nina. Mereka menjadikan gua layaknya adik yang musti dibimbing dengan sebaik-baiknya. Alhasil, gua pun jadi semangat nerima amanah yang diberikan oleh mereka karena mereka juga tidak terlalu membebani adik" staf nya dengan program kerja MSDM. Dalam prosesnya, gak mudah untuk membentuk tim yang solid di internal MSDM tapi itu menjadi tantangan tersendiri sih karena tugasnya MSDM yaa menjaga kondusifitas internal organisasi, menjadi orang" terbawel di grup bahkan kalo lagi tatap muka, dan menjadi sahabat" tiap department yang ada di KAIFA.

Singkat cerita, fungsionaris MSDM pun dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik sampai akhir kepengurusan. Yang gua dapet pun banyak dari biro ini antara lain pengalaman yang luar biasa, menambah pertemanan bahkan menjadi keluarga kedua setelah yang di rumah hehe, dan tentunya ilmu yang gua dapet mengenai manajemen organisasi bahkan manajemen diri. Semenjak itu, gua pun meyakini bahwa organisasi yang baik dan berhasil dapat dikarenakan internal organisasi yang solid.

Bersambung...

Saturday, January 19, 2019

Indahnya Berbagi Semangat Kebaikan (Part 1)

Tak dapat dipungkiri, bahwa semangat dalam diri merupakan hal yang wajib dijaga dalam aktivitas sehari-hari. Tanpa adanya semangat dalam diri seseorang, semua yang dilakukan terasa sia-sia, percuma, dan gatau lagi harus gimana. Alhasil muncul suasana gabut yang mana dihasilkan dari pekerjaan seseorang yang tidak diiringi oleh semangat. Adakalanya, sesuatu yang dinamakan "semangat" perlu di charge setiap harinya. Dengan apa? tentu tiap orang punya cara nya masing-masing walaupun gua terkadang bingung apa yang harus gua lakukan disaat gua gabut. Beberapa orang terdekat gua pun bilang bahwa semangat dalam diri berkaitan dengan ibadah yang kita lakukan kepada Allah Swt. Istilah nya Ruhiyah kita perlu dijaga betul setiap harinya. 

Guru ngaji gua di deket rumah pernah bilang bahwa gabut nya seseorang disebabkan oleh dosa yang kita lakukan di awal hari(baca : pagi hari) ataupun mungkin di hari-hari sebelumnya yaitu kelalaian kita dalam hal ibadah kepada Allah Swt. Kalau gua pikir, ada benar nya juga karena gua pun pernah merasakan bedanya suasana hati dan semangat gua antara gua sholat subuh berjamaah dengan kesiangan dalam sholat subuh. Lebih afdol lagi kalo baca Qur'an tiap pagi buat awalin aktivitas. Ini yang gua dapet disaat gua masih SMA yang ada jadwal tadarus Qur'an tiap pagi sebelum jadwal pelajaran dimulai. Coba deh kita intropeksi diri kembali dan flashback lagi aktivitas apa yang bisa bikin kita tenang di pagi hari. Kebiasaan kayak gitu mulai luntur saat gua udah memasuki fase kuliah. Saat kuliah, gua jarang yang namanya ngawalin pagi, jam pertama dengan baca Qur'an mungkin karena gua masih malu-malu di dalam kelas yang notabene nya belum memiliki kebiasaan kayak gitu. 

Lambat laun gua jadi meninggalkan kebiasaan baca Qur'an tiap pagi. Betul aja, suasana hati yang biasanya tenang di tiap pagi berubah menjadi kegelisahan yang kadang menghantui gua. Ditambah saat gua kuliah, gua sering duduk di bangku paling belakang, jarang yang namanya duduk di depan hehe. Berbeda dengan kebiasaan gua saat SMA dimana gua selalu duduk paling depan(anti belakang-belakang club). Mungkin mentemen pembaca ada yang punya pengalaman sama dengan gua dulu. Awal perubahan kebiasaan gua ini masih gua rasakan biasa-biasa aja, tapi seiring berjalannya waktu sampe gua semester 5 kuliah, gua jadi malu yang namanya duduk di bangku paling depan. Aneh rasanya, gua terasa asing di kelas karena memang kurang aktif juga sih di kelas. Yaa paling-paling gua hanya fokus mendengarkan dosen saat memberikan materi nya dan jarang memberikan pertannyaan ke dosen jika ada materi yang gua gak paham. 

Kembali ke konteks semangat dalam diri, gua merasakan adanya penurunan yang drastis antara semangat belajar saat SMA dan Kuliah. Namun, Alhamdulillah gua dikelilingi lingkaran orang-orang baik yang kayaknya sih punya visi yang sama dengan gua yaitu selalu berupaya bikin seneng orang lain dengan kebaikan yang kita miliki. Kebanyakan temen-temen selingkaran gua satu jurusan walaupun ada beberapa orang yang berbeda jurusan. Kalau gua gak ketemu mereka gua gatau jadi apa sekarang dan mungkin gua bisa jadi orang yang tiap hari cuma bisa stres hehe. Maka dari itu, gua harus melawan yang namanya kebiasaan males gua. Minimal gua harus banyak-banyak bermanfaat buat orang lain di masa perkuliahan ini tapi terkadang gua mengesampinkan diri gua sendiri. 

Di semester 2 kuliah, gua masuk kelompok liqo di fakultas. Awalnya gua gaada niatan untuk liqo-liqo lagi di kampus tapi nyatanya seperti ada magnet yang menarik gua untuk gabung kembali di liqo fakultas. Kelompok liqo gua pun sama dengan kelompok main gua di fakultas, itu-itu aja yaa hehe tapi yaa mungkin Allah Swt sengaja mengumpulkan gua dengan orang-orang tersebut yang di atas gua bilang kalau mereka punya visi yang sama dengan gua. Tanpa menyebutkan nama-nama nya, mereka yang gua kenal sampe sekarang sebagian jadi panutan gua dalam menyebarkan kebermanfaatan walaupun tiap orang pasti memiliki kekurangannya masing-masing. Gua jadi punya semangat kembali dalam diri gua maupun dalam menyemangati orang lain ditambah gua diberikan mentor dalam liqo yang banyak pengalamannya di fakultas maupun UI dan super pinter dalam menjaga semangat dan memanajemen aktivitas yang dia lalui tiap harinya. Gua banyak belajar dari mentor gua yang satu ini dan temen-temen liqo sekaligus temen main

Bersambung...

Wednesday, November 8, 2017

OSN Matematika 5 SD (Part 1)

Timbul pertanyaan tentang “ada gak sih guru Sekolah Dasar(SD) yang berkesan di hidup lu sampe sekarang?”


Guru SD? Menurut gua Guru di sekolah dasar fungsi nya sama kayak guru-guru semisal SMP,SMA, dan lainnya apalagi kalo bukan mengajar. Kegiatan mengajar tentu lah menjadi hal yang lumrah dan menyenangkan bagi sebagian besar guru, apalagi guru SD yang hampir tiap hari ketemu murid-murid lucu nan imut yang masih piyik-piyik,polos-polosnya, dan rame wkwk. Namun yang menjadi spesial bagi guru SD yaitu tujuan mereka membentuk pribadi dan karakter kita sejak dini di sekolah. Didukung dengan lama nya masa SD yaitu 6 tahun membuat banyak nya kenangan yang gabisa dilupain dengan murid-murid nya.

Gua mulai mencicipi seru nya sekolah dasar tahun 2004, dan tahun demi tahun berganti wali kelas dengan watak yang berbeda satu sama lainnya. Dari kelas 1-4 gua dapet wali kelas yang menyenangkan dan tentu nya ga killerrrrr. Emang ada guru SD killer? Banyak!! Yaa tapi killer nya itu bertujuan agar kita enggak keras kepala suatu saat nanti dengan orang lain dan di samping itu, ada sisi lain di balik ke killer an mereka yaitu mereka sangat sayang pada kita. Buktiin aja kalo pas lulus-lulusan, sebagian besar guru killer malah menjadi guru yang nomor 1 mendoakan dan menyemangati kita hehe

Kayaknya udah cukup panjang deh basa-basi nya wkwk langsung aja deh ke topik utama nya…

Di awal kelas 5 merupakan puncak semangat gua dalam mempelajari matematika. Apalagi saat wali kelas gua(Pak Wawan) menunjuk gua sebagai perwakilan SD untuk mengikuti lomba OSN( Olimpiade Sains Nasional) Matematika tingkat SD. Bukan hanya gua, tapi ada satu temen yang ikut pula di mata pelajaran lain yaitu IPA bernama Awan. Kami memulai perjuangan di tingkat Kecamatan hehe yang tentu nya minta doa terlebih dahulu sama orang tua, Keluar dari rumah, gua dianter sama ayah sampe atas gang dan dikasih amalan-amalan yang menurut gua berguna banget. Mengapa demikian? Karena gua dihinggapi rasa takut membuat kecewa orang tua dan sekolah, namun ayah menyarankan selalu baca Sholawat Nabi agar gua tenang di perjalanan dan gak merasa terbebani sebelum lomba. Setelah udah di depan gang, gua dijemput sama pak Wawan.

Sesampai di tempat lomba, yang bertempat di Sekolah Dasar 05 Cipedak, Jakarta Selatan, lupa nomer berapa hehe dan gua belum pernah yang namanya keluar dari Lenteng Agung, sepintas kayak orang norak sih wkwk. Seperti biasa ada briefing dan apel pembukaan. Namun sebelumnya, gua dan Awan nyempetin waktu buat keliling tuh sekolahan, dan apa yang terjadi? Gua bener-bener kayak orang norak ngeliat sekolah yang dilihat lebih bagus dan besar dibanding sekolahan gua wkwk

Tes tulis pun dimulai dengan soal-soal yang alangkah susah nya dan gua hanya mengandalkan kemampuan logika sebagai ilmu yang tiba-tiba datang. Sifat cool pun menghinggapi gua, dan Alhamdulillah semua soal bisa gua kerjain walaupun gak tau yang bener ada berapa wkwk.

Gua dan Awan hanya bisa berharap dan berdoa atas upaya yang udah gua lakukan. Lolos atau tidaknya tergantung dengan rejeki yang Allah Swt. Kasih ke gua, ditambah apresiasi dari Pak Wawan selaku wali kelas gua yang mengantar dari depan gang sampe pulang ke depan gang lagi hehe beliau mengatakan bahwa akan diambil 10 peserta terbaik dari 100 peserta untuk dilombakan kembali ke tingkat Kotamadya. Mendengar hal tersebut, gua dan Awan sontak kepengen lolos hehe gua pengen ngangkat nama keluarga dan sekolah apalagi saat itu sekolah gua masih dirasa terbelakang dari sekolah-sekolah lain yang berada di sebelahnya…


Bersambung J

Monday, May 8, 2017

Sahabat semasa Sekolah Dasar

           Dimulai tahun 2004, dalam usia 6 tahun dengan membawa sifat yang sangat pemalu dan tidak tahu bagaimana cara mencari teman. Alangkah bahagia nya bisa bersekolah diantar oleh orang tua yang saat itu tersenyum melihat anak nya menuntut ilmu, dan berharap semua yang dipelajari nantinya tidak berbuah sia-sia.
           
           Sejak kecil gua diberi tekad oleh orang tua untuk menjadi yang terbaik di kelas, dan tekad kuat tersebut menjadi dorongan motivasi lebih bagi gua untuk menjalani dunia sekolah. Motivasi dari orang tua sangatlah penting, namun tidak kalah penting jika kita mempunyai sahabat semasa kecil yang ikut andil dalam membentuk pribadi kita menjadi kuat nantinya. Sebut saja Anca dan Opang, layaknya sahabat kami pun selalu berkumpul,bermain hampir tiap hari.
           
         Pertemuan bermula saat kelas 3 SD, dimana ada murid pindahan yang datang entah darimana asalnya. Namanya Royansyah(dipanggil Anca). Pada saat itu, ia pun menarik perhatian murid-murid lain dengan kepandaian nya baik dalam berbicara maupun dalam hal belajar. Walaupun kami berbeda kelas, namun ada keinginan dari gua untuk segera bisa berkenalan dan dekat dengan nya. Di pikiran gua saat itu hanyalah ingin suatu saat nanti dapat duduk sebangku dan akrab layaknya sahabat. 

       Yang kedua, bernama Nauval tapi lebih akrab dipanggil Opang. Kenal dekat dengan dia semenjak kelas 4 SD. Mungkin perbedaan nama panggilan ini sekilas untuk membedakan mana nauval yang sesungguhnya atau bukan?) wkwk. 
Berbeda dengan Anca, dengan paras yang dibilang cukup dibilang tampan, opang berhasil menarik perhatian murid-murid satu sekolah terutama cewek. Masing-masing punya kelebihan lah ya wkwk. 

         Yang ketiga, mempunyai nama yang lumayan keren(Robert Fernando). Namun tak sekeren yang dibayangkan(?) wkwk. Robert layaknya seorang tangan kanan sejak kelas 1 SD yang selalu ikut kemana pun gua pergi di lingkungan sekolah wkwk. Dia ini sangat baik dan bisa dibilang lucu wkwk, mungkin baru kali ini punya teman sebaik dia dan gak pernah sekalipun bikin sedih.

         Kami berempat tinggal berdekatan di deket SD Lenteng Agung, kecuali Robert yang tinggal di daerah Tanjung Barat. Walaupun dengan latar belakang yang satu sama lain berbeda, gaada tuh yang namanya sifat tertutup di antara kami. Gaada yang namanya rahasia”-an, pelit”-an, apalagi marah”-an hehe. Belum ada perselisihan yang terjadi gara” masalah baik kecil maupun besar. Mungkin karena kami masih polos-polosnya, ya jadinya buat apa bertengkar.

Teringet banget saat foto sama mereka, liat aja nih masih culun-culunnya hehe



Pokoknya kangen bangat lah ngumpul bareng kalian lagi .. Ca.. Pang.. Bet .. wkwk

            Pada akhirnya, yang penting kita masih kabar-kabaran dan gak lost contact. Berjuang di jalan kesuksesan masing-masing, jangan sombong dengan apa yang telah diraih, jangan malu juga pernah dan deket kenal sama temen yang kayak gua ini hehe gua bersyukur pernah deket sama kalian!


 8/5/17